Aku belajar bahwa menerima diri sendiri bukan berarti pasrah, tetapi memahami bahwa kita layak dicintai bahkan ketika kita belum sempurna. Kita berkembang perlahan. Dan itu nggak apa-apa.
Dulu aku sering merasa harus jadi “lebih” agar pantas dihargai—lebih pintar, lebih tenang, lebih berhasil, lebih segala-galanya. Tapi semakin aku berusaha menjadi versi ideal yang aku bentuk di kepala, semakin jauh rasanya dari diriku yang sebenarnya.
Ternyata, tidak apa-apa jika aku belum jadi seperti yang orang lain harapkan. Tidak apa-apa jika hari ini aku hanya bisa menyelesaikan sedikit hal. Tidak apa-apa kalau kadang aku merasa lelah, bingung, atau tidak yakin. Semua itu adalah bagian dari menjadi manusia.
Menerima diri bukan tentang berhenti tumbuh. Tapi tentang tumbuh dengan penuh kasih, bukan dengan paksaan. Tentang memberi ruang bagi kegagalan, kesalahan, dan versi-versi diriku yang masih belajar.
Aku mulai percaya bahwa aku layak dihargai bukan karena pencapaianku, tapi karena aku tetap bertahan, belajar, dan mencoba—meski tidak selalu sempurna.
Dan dari sana, pelan-pelan, aku mulai merasa cukup.
